budaya

Makna Dekorasi Rumah Pengantin Etnis Pesisir


Oleh : Syafriwal Marbun
Saat ini dengan semakin padatnya hunian di kota Sibolga dan sempitnya lahan perumahan, kita lihat hampir setiap hari libur terjadi kemacetan dibeberapa ruas jalan. Sumber kemacetatan tersebut berasal dari semakin banyaknya ‘tenda biru’ atau taratak acara pesta perkawinan di dirikan di pinggir jalan, bahkan kadang memakan semua jalan.

Keberadaan taratak ini mengurangi kesulitan para orang-orang tua yang memiliki anak yang mau dirayakan perkawinannya tersebut, maklum hampir semua rumah tidak punya halaman atau ruangan dalam rumah tidak memadai menampung tamu yang datang amat banyak.


Berbeda zaman dahulu, semua kegiatan berada di dalam rumah atau sekitar rumah, saat ini kegiatan berpindah ke jalan dan bahkan jauh dari rumah bila gangnya sempit dan rumah jauh di dalam. Akibatnya kita sudah mulai jarang menjumpai aksesoris rumah pengantin ala pesisir yang amat memesona, tidak banyak lagi kita lihat pelaminan yang bertirai kelambu bersusun, kareta julak-jalik dan aneka hiasan seputar pelaminan ini.

Makna Dekorasi Rumah Pengantin Etnis Pesisir

Pendekorasian rumah ini tidak asal taruh saja, ada makna yang mengikuti aturannya, setiap  penempatan mengikuti aturan main, sehingga terlihat harmonis dan sejuk dimata.
Adapun makna lain dari aksesories tersebut sedikit saya bahas antara lain : 

Tirai berwarna adalah corakragam masyarakat Pesisir, yang berbaur dari berbagai etnis, Arab, China, Aceh, Minang dan Batak.

Langit-langit fungsi awalnya dahulu adalah sekat antara pagu (lantai atas rumah), tempat dimana para gadis-gadis berada. Agar mereka tidak kontak langsung dengan para tamu yang bukan semuhrim, digantungkanlah langit-langit tersebut, dan mereka bebas melihat (mengintip) ke bawah siapa-siapa tamu yang datang, tanpa sang tamu menyadarinya.Bentuk tirai langit-langit empat persegi seperti kotak tertelungkup. Langit-langit ini mempunyai jurai-jurai pada pinggirnya dan dihiasi dengan berbagai motif sulaman.

Pada sisi-sisi langit-langit ini tersemat lidah-lidah bentuknya seperti dasi. Bahannya dari kain dan berbagai ragam. Ada yang bersulam benang emas, ada yang bertabur bintang dan ada yang pakai kaca gemerlapan. Kesemuanya mengandung makna mawas diri. Angkin main-mainan yang menyela lidah-lidah. Angkin bahannya dari beludru atau satin. Angkin berhiaskan manik-manikan api-api yang bermotifkan flora dan fauna. Angkin sebagai lambang kebahagiaan dan kesejahteraan.

Tabir adalah kain dinding dengan berbagai warna. Tabir mempunyai warna dasar hitam, kuning dan merah. Ditengahnya ditata dengan bermacam warna kain yang membujur dan membelintang. Tata warna yang menarik bermakna keragaman dalam alur dan patut. Kelambu terdiri dari dua helai kain yang digandeng dan bersibak di tengah. Dasarnya beledru sutera, satin dll. 

Motif sulaman kelambu berupa flora dan fauna. Kelambu berfungsi sebagai layar masuk ke tempat tidur dan peristirahatan. Kelambu pelaminan sampai tujuh lapis yang mempunyai makna bahwa untuk menuju dan mendaparkan yang baik melalui berbagai lapis rintangan dan hambatan.

Mengapa hal ini saya angkat dalam tulisan kali ini ? Adalah sebagai mengingatkan kita bahwa dengan semakin jarangnya acara pesta perkawinan dilangsungkan di rumah, semakin lama semakin lupa pulalah kita dengan dekorasi adat perkawinan kita. Tulisan ini hanya menggugah apakah kita masih sayang dengan adat kita.

About Cerita Sibolga

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.