budaya

Tradisi Mamogang Malape Salero dan Kerinduan

Tradisi Sibolga Tapanuli tengah
Tradisi Sibolga Tapanuli tengah
Oleh : Syafriwal Marbun (Pengamat Budaya Pesisir Tapteng-Sibolga)

Dahulu dua hari menjelang bulan puasa semua warga Pesisir Tapanuli Tengah mulai dari Barus, Sorkam dan Sibolga disibukkan oleh sebuah acara unik, dimana para warga pesisir berbondong-bondong mendatangi sebuah pasar kaget, pasar yang timbul mendadak dan hanya berlangsung satu hari saja, di pasar ini dijual hanya daging saja dan bila ada jualan lain itupun bersentuhan pula untuk keperluan daging tadi seperti sayur kol, wortel, kentang, kelapa, daun sup (seledri) dan daun bawang perei.

Inilah yang disebut hari mamogang (dalam bahasa Aceh disebut Uroe Meugang) hari dimana beratus-ratus ekor kerbau disepanjang pesisir disembelih lalu dagingnya dimakan mengganti ikan yang rutin disantap sepanjang hari sepanjang tahun. Mamogang / mamagang adalah tradisi masyarakat pesisir yang telah ada sejak berabad-abad yang lalu, yang tidak diketahui kapan dimulainya.

Konon dahulu pada hari mamogang ini para pembesar kerajaan (Raja, Sultan, Hulubalang, dsb), orang-orang kaya membeli daging tersebut lalu membagi-bagikannya kepada para fakir miskin, janda-janda serta anak yatim sebagai sedekah untuk berbagi kebahagiaan bagi mereka yang kurang beruntung.

Saat itu dimana daging adalah makanan yang amat mewah dan hanya dikonsumsi saat-saat tertentu saja (saat kenduri, pernikahan dan Hari Raya Qurban) maka amat sedihlah mereka yang kurang mampu karena tidak sanggup membelinya.

Ada juga daging ini dimasak lebih dahulu, lalu dibagi-bagikan kepada para fakir miskin tadi, atau saling bertukar masakan dengan para tetangga, sanak saudara, orang tua, mertua. Pokoknya hari itu seluruh kampung yang tercium aroma masakan daging dengan aneka rasa masakan gulai, rending, singgang, maupun sup.

Dahulu acara mamogang ini juga bertalian dengan acara silaturahmi para sanak famili yang datang dari perantauan, saat mamogang ini mereka akan datang untuk berkumpul di rumah keluarga besar sambil bersantap daging sekaligus berziarah ke makam leluhur.

Karena begitu kentalnya tradisi mamogang ini, banyak warga pesisir yang jauh-jauh hari menabung untuk membeli daging, bahkan kalau perlu berhutangpun dia lakukan asal dapat daging dibawa ke rumah dan nanti dibagi kesesama sanak saudara.

Karena mamogang telah mentradisi maka balutan adatpun secara tidak langsung ikut menghiasinya. Bagi pengantin baru atau dalam tahun itu menikah, saat mamogang ini akan menunjukkan perhatiannya pada keluarga besar kedua pihak baik orang tua sendiri maupun kepada mertuanya. Sang marapulai akan membelikan beberapa kilogram daging yang diantarkan pada keluarga dan mertuanya, beberapa kilo lagi akan mereka olah untuk dipersembahkan pada saudara dan para ipar-ipar yang telah berkeluarga.

Ini adalah symbol menantu menyayangi mertuanya dan menandakan telah mampu memberi nafkah keluarganya sendiri.Tidak heran saat itu harga daging akan sangat mahal, karena banyak yang memerlukannya.

Tidak terkecuali waktu itu para santripun (murid-murid pengajian) dengan rantang susun di tangan mendatangi para ustad (guru mengaji) mereka mempersembahkan masakan ibundanya ke rumah ustad tersebut. Bukti hormat dan saying mereka kepada gurunya.

Spirit mamogang ini menjadi perekat social segala elemen masyarakat waktu itu dalam mempererat silaturahmi yang selama setahun telah terkekang rutinitas sehingga kadang mengabaikan kebersamaan. Tradisi ini secara signifikan menjadi pembuhul dalam bermasyarakat yang ‘saiyo sakato’ dalam negeri nan badusanak ini.

Mamogang juga adalah bentuk salam lain untuk bermaaf-maafan sebelum memasuki bulan puasa, sebuah bentuk bermaaf-maafan yang khas yang tidak ada dalam tradisi suku lain, tradisi yang sekarang ini telah mulai hilang bahkan sudah mencair sejalan dengan adanya daging yang dijual saban hari di pasar. Ditambahi pula sifat individual masyarakat modern yang sudah lekang dari adat tersebut.

Kini tradisi mamogang ini menjadi sekedar pelepas selera saja, sebelum nanti terkekang sebulan dalam berpuasa, maka membeli daging banyak pun bukan untuk dibagi-bagikan, tapi dibuat dendeng sebagai menu berbuka dan penambah selera saat makan sahur . 

Kalau tetangga tidak beli daging itu mungkin karena sedang tidak makan daging (diet kolestrol) dan itu bukan masalah kita, nanti kalau dia punya uang tinggal dibelinya di onan. Tradisi lama sudah terkelupas dan sudah disisihkan, sehingga kadang acara mamogang ini sudah terasa hambar jauh dari sentuhan sosial seperti jaman dahulu.

Begitu juga para perantau diperantauan sana, saat mamogang bukan lagi melepas rindu pulang ke kampong halaman, tetapi malah pergi tamasya ketempat-tempat hiburan dan wisata, tinggallah kuburan para leluhur menjadi semak belukar, sudah tidak di ziarahi lagi, karena tradisi sudah tercerabut dan menjadi sejarah.

About Cerita Sibolga

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.